Apapun yang terjadi alif nggak boleh nonton TV. Titik!

By Iamsyadh - 20:01:00

السلام عليكم


Apapun yang terjadi alif nggak boleh nonton TV. Titik!

Sekiranya begitu, harapan saya waktu masih hamil, membaca diberbagai sumber tentang dampak menonton TV bagi anak balita apalagi bayi.

Dulu juga sempat berfikir
" pas nanti kalau anak udah lahir, aku tinggal masak dan bebenah rumah, anak taruh di Box bayi setelin TV lagu-lagu anak" Nah, setelah tahu dampak TV pada bayi akhirnya memutuskan, "okeh, nanti ngak ada TV dikamar, dikamar waktunya istirahat dan tidur."
Dan masih banyak beberapa rules yang dibuat untuk anak. Seolah yakin bahwa itu semua akan berjalan lancar sesuai keinginan.

Jebreettttt, anak lahir dan sudah umur 6bulan, memasuki waktu MPASI. 1bulan 2 bulan pertama, aman. Umur 8 bulan, dimana anak sudah bisa banyak gerak, berontak dan teriak, apalagi kalau sudah merasa bosan dengan menu makanan. Dan sang TV bagaikan dewa penolong.
Ketika mulai memasuki BLW (Baby Lead Weaning), menu makanan sudah naik grade dan sudah hampir sama dengan orang dewasa biasa makan. Disaat-saat seperti inilah anak sudah mulah GTM ( gerakan tutup mulut) lempar makanan, piring sedok dan gelas. Gerakan-gerakan dan bantuan mainan sudah tidak mampu menjadi penghibur, ide sudah habis dan stuck. Semuanya kembali ke pada TV atau gadget

Saat anak sudah mulai merangkak kemana-mana dan bisa mengikuti kemana ibunya pergi. Sudah mengenal dan menghafal seluk beluk rumah. Mampu mencari ibunya ke dapur, kamar mandi dan dimanapun jika ibunya tidak ada di kamar. Saat si ibu sibuk memasak, dan sang anak tidak ada yang menjaga atau mengajak bermain dan sang ayah sibuk bekerja. Saat si ibu dalam keadaan darurat harus kekamar mandi, dan sang anak tidak mau lepas dari gendongan dan pelukan ibu. 

Masih banyak lagi rentetan alasan kenapa gadget terkadang membantu para ibu. 
meskipun sudah tahu bahayanya, dan tidak bisa memprediksi sampai kapan nanti anak akan mengerti kapan dia bisa menonton Tv dan kapan dia harus berhenti menonton tv. Sempat beberapakali mengikuti seminar parenting mengenai dampak gadget pada anak dan balita. Disimpulkan bahwasannya, jika kita benar-benar ingin menerapkan stop gadget pada anak, ya kita sendiri yang harus konsisten. Nah, masalahnya si "KONSISTEN" itu.

Kalau saya pribadi kenapa mesti menyerah pada TV? ( cek disini channel TV pilihan saya)

saya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang mempunyai banyak pekerjaan rumah. Saya butuh bala bantuan untuk membantu pekerjaan rumah saya. Dan saya juga tahu sudah banyak ibu-ibu sebelum saya, bahkan sudah sejak jaman nenek moyang. Bahwa semua ibu diseluruh penjuru dunia ini, merasakan jika pekerjaan rumah tangga tidaklah sesimple yang kita lihat, mungkin jika masih ada yang berfikir, kan cuma nyapu doang? bisa dong disambi gendong anak?, bisa dong selagi anak anteng atau tertidur bebenah rumah, masak, nyuci baju, apalagi kalau sudah punya mesin cuci, kan tinggal masukin putar, kering jemur. Bisa dong nyuci piring sambil gendong anak?, bisa dong goreng doang sambil gendong. Yap yah masih beranggapan seperti itu, mohon mata hatinya dibuka, dan sama sama belajar. Semuanya tidak semudah yang dibayangkan. Pernahkan anda berfikir jika saat masak, dan lengah tiba-tiba anak anda mengambil pisau disamping anda, anak anda mengambil barang barang disekitarnya yang bisa membahayakan dirinya dan anda juga. Kalau saya pribadi tidak mau mengambi resiko, tak apa jikalau perut saya hanya masuk makanan mie instan. Tak apa kalau saya selalu membeli makanan diwarung yang banyak mengandung MSG.
Dan itulah kadang saya, "okeh ngak papa deh asal kamu anteng didepan TV".


taken by iamsyadh
beginilah kalau anak lagi fokus nonton ( kalau)


Sudah bisa dipastikan bukan mata anak ini arahnya kemana? Yak benar , TV


 





Pahamilah, kami juga ingin anak-anak kami, tumbuh dengan baik, salah satunya tidak ketergantungan dengan TV. Kami ingin banyak meluangkan waktu bermain dengan anak. Bermain sensory play, bermian cat, tanah, air, bermain kotor-kotoran lainnya, yang membuatnya terus beraktifitas diluar ruangan. Namun apadaya, energi kami sudah habis untuk pekerjaan rumah, sudah  habis tenaga kejar-kejaran menyuapi anak yang sudah tidak mau duduk di kursi makan.
Ketika mereka asyik menonton TV, biarkan sejenak kami istirahat walau hanya selonjoran

Biarpun saya memberikan anak waktu menonton Tv namun saya juga membatasi Channel dan program apa yang di lihat, dan memberikan batasan waktu. Tidak serta merta saya membiarkan terus-terusan dia didepan TV. Alhamdulillah-nya Alif masih dalam kategori bosenan, jadi kalaupun di sodorin Tv dia tidak full duduk manis. Kalau Program yang dia lihat banyak bicara dia balik kemainannya. Tapi kalau program yang dia lihat ada lagu-lagunya dia mulai asyik dan terkadang dia tepuk tangan sendiri sambil bilang , dan kadang juga joget-joget sendiri (percayalah ini adalah hal kecil yang lucu dan menyenangkan bagi seorang ibu). 


Aaya bukanlah ibu sempurna yang memiliki 5 pembantu. 1 mengasuh anak, 2 Tukang masak, 3 tukang bersih-bersih rumah 4. Tukang pijit 5. Sopir.
Karena sejatinya menjadi Ibu , Istri, Chef, Doctor, Therapist, Minister Of Finance semua sedang saya coba lakukan secara bersamaan, ya benar, saya, kami para wanita adalah jiwa yang sudah disusupi harus Multitasking Person hukumnya fardhu 'ain.

Namun bukan jaminan juga ketika saya mempunyai bala bantuan, saya bisa menghindari gadget sebagai dewa penolong, namun setidaknya gadget bisa terminimalisir karena saya fokus mengurus anak. 

Sempat membaca curhatan ibu rumah tangga biasa yang membandingkan dirinya dengan Nia Ramadhani? cek disini sekiranya  begitulah yang banyak terjadi di kalangan ibu-ibu termasuk saya . 😀😂.  Semua memliki batasan yang tak mampu terus dipertahankan. Ada banyak hal-hal yang tidak bisa diuangkapkan, apalagi harus di share di publik bahkan curhat panjang lebar di Wall facebook. Loh, hidupku bukan konsumsi publik, emang situ siapa? artis juga bukan 😂😅😆.

Sekarangpun masih banyak ibu-ibu baru atau bahkan sudah senior yang masih nyinyir. Iya nggak sih? , " ih anaknya masih kecil kok boleh sih nonton Tv" tanpa mereka tahu alasan si ibu memberikan Tv dan kebanyakan mereka sok bijak. Padahal tak jarang sesungguhnya mereka juga memberikan fasilitas Tv kepada anak mereka namun gengsi untuk membicarakannya. Pasti masih ada type-type seperti ini. 
" ih gue ngak ngasih loh anak gue tv sama sekali, tv gadget kan ngak bagus buat perkembangan anak". "jadi biasanya kalau lagi makan gue ajak dia main, nyanyi tunjukin buku buku bergambar dan binatang"

Ohhh Tuhan, andaikan semua anak bisa kita setting seperti ini, dan saya yakin yang macam seperti ini biasanya ingin terlihat perfect mother  ever. Yah maaf-maaf saja, bersyukur kalau anaknya memang bisa seperti itu, tapi nampaknya itu tidak terjadi pada anak saya. Terkadang kalau sudah ada yang judgement, dan memonopoli pembicaraan seputar parenting, padahal kita sama-sama baru,  biasanya saya lebih milih minggir,  ketimbang saya ikutan tidak waras. 😂😀😅😄

Sudah banyak aturan yang sesungguhnya kami yang melanggar sendiri. Duhai anakku, maafkan ibumu yang masih banyak kekurangan, dan biarkan ibumu selalu belajar terus untuk memperbaiki cara mengasuhmu. Terkadang kami memang melampaui batas, Maafkan ibumu anakku.


Jangan hakimi kami, jangan rendahakan kami, jangan kucilkan kami.
Kami hanyalah seorang ibu biasa yang terus belajar setiap detik. Ibu yang tidak sempurna, banyak salah dan khilaf. Marilah sama-sama belajar, jika ingin memberikan saran, berilah saran dengan nada dan cara yang nyaman dan menyenagkan, jadilah pendengar juga bukan hanya mau didengarkan. Percayalah terlalu banyak bicara mengenai pola asuh anak didepan ibu-ibu "seangkatan" terkadang bukan menunjukkan anda sebagai ibu yang smart, dan perfect malah anda akan terlihat lebih buruk. Apalagi bila semua ucapannya harus dibuktikan. ( ingin rasanya kukatan "tuh yang katanya anaknya ngak boleh gadget, eh emaknya malah sibuk maen hp sendiri")

Nggak semuanya mom, harus di share di muka umum, bukankah lebih membahagiakan ketika kita banyak diam namun ketika orang melihat cara kita mengasuh anak, orang lain yang melihat bergumam dalam hati "wah si ibu ini hebat ngak perlu pake urat anaknya langsung nurut". Bukan berarti haus akan pujian, tapi bukankah pujian diakhir itu menyenangkan bagi seorang ibu? .

Semoga kita semua terus belajar menjadi ibu yang bijak. Membesarkan anak-anak kita penuh dengan cinta kasih, budi pekerti dan ahklak yang mulia, Generasi Hebat dimulai dari ibu yang Hebat. amin, Semoga.


See yaaa on the next post, hope you enjoyed my story 

 وَ السَّلاَمُ

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar