Keluasan Ampunan Part 2

By Iamsyadh - 22:40:00





Ada seorang pemuda Anshar, namanya Tsa’labah bin Abdurrahman. Ia biasa melayani Rasulullah Saw. dan membantu pekerjaannya. Suatu hari Rasulullah menyuruhnya mengurusi suatu keperluan. Di tengah jalan Tsa’labah melintas di dekat pintu rumah orang Anshar. Ia melihat seorang wanita Anshar sedang mandi, karena takut dan khawatir kalau-kalau turun wahyu kepada Rasulullah Saw. tentang apa yang telah dilakukannya, ia pergi menyelamatkan diri. Ia mengasingkan diri di pegunungan antara  Mekkah dan Madinah.
Rasulullah Saw. Mencarinyan selama empat puluh hari. Kemudian Jibril ‘alaihis salam berkata kepada Rasulullah
“Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan memberikanmu;   seorang dari umatmu ada di antara pegunungan ini meminta perlindungan kepada-Ku.”
Lalu, Rasulullah Saw. berkata kepada para sahabat,
“Umar, Salman, pergi! Bawalah kemari Tsa’labah.”
Mereka pergi meninggalkan Madinah dan bertemu dengan seorang penggembala Madinah bernama Dzaffafah.
“Apakah kamu mengetahui seorang pemuda yang tinggal di pegunungan ini bernama Tsa’labah?” Umar berkata kepadanya.
“Mungkin yang Engkau maksud adalah orang yang melarikan diri dari Jahanam,” jawab si penggembala.
“Bagaimana kamu tahu bahwa ia melarikan diri dari Jahanam?”
“Sebab setiap tengah malam ia keluar ke tempat kami dari tengah-tengah pegunungan ini sambil meletakkan tangan di atas dahi seraya berseru, ‘Oh, betapa menyenangkannya andaikan Engkau telah mencabut rohku di antara roh-roh  yang ada dan memusnahkan jasadku di antara jasad-jasad yang ada sehingga Engkau tidak mengikutiku di peradilan-Mu.”
“Dialah orang yang kami cari!” jawab Umar.
Tatkala malam tiba, Tsa’labah benar-benar keluar dari tempat pengasingannya di atas dahinya seraya berseru, 
‘Oh, betapa menyenangkannya andaikan Engkau telah mencabut rohku di antara roh-roh  yang ada dan memusnahkan jasadku di antara jasad-jasad yang ada sehingga Engkau tidak mengikutiku di peradilan-Mu.”
Umar mendekatinya dan merangkulnya.
“Umar apakah Rasulullah mengetahui dosaku?” Tanya Tsa’labah cemas.
“Aku tidak tahu,” jawab Umar.
“Hanya saja Rasulullah membicarkanmu lalu menyuruhku dan Salman untuk mencarimu.”
“Umar, jangan hadapkan aku kepada Rasulullah Saw. kecuali ketika beliau sedang shalat,” pinta Tsa’labah.
Sesampainya ditempat Rasulullah Saw., Umar dan Salman langsung masuk barisan orang-orang yang sedang shalat. Saat mendengar bacaan Beliau, Tsa’labah langsung jatuh pingsan.
             “Umar, Salman! Apa yang dilakukan Tsa’labah?” Tanya Rasulullah setelah salam.
              “Ini dia wahai Rasulullah,” jawab Umar.
Lalu ia menjelaskan tentang Tsa’labah.
Lalu Rasulullah bangkit, menggerak-gerakkannya, dan Tsa’labah pun sadar.
                “apa yang menyebabkanmu pergi dariku?” Tanya Rasulullah.
                “Dosaku, wahai Rasulullah,” jawab Tsa’labah
                “Maukah kamu aku tunjukkan ayat yang menghapus dosa dan kesalahan?”
                “Tentu, wahai Rasullah.”
“Bacalah, ‘Ya Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”
“Dosaku lebih besar, wahai Rasulullah.”
“Tidak, firman Allah lebih besar!”
Lalu, Rasulullah Saw. memerintahkannya untuk pulang ke rumahnya. Ternyata, Tsa’labah jatuh sakit selama delapan hari. Salman mendatangi Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, apakah Engkau memiliki obat untuk Tsa’labah? Ia telah binasa karna apa yang telah menimpanya.”
“ayo kita pergi bersama kerumahnya!” ajak Rasulullah.
Ketika tiba dirumah Tsa’labah, Rasulullah menemuinya dan memegang kepalanya, diletakkan di pangkuannya. Namun Tsa’labah malah pindah dari pangkuan beliau.
                “mengapa kamu menyingkirkan kepalamu dari pangkuanku?” Tanya Rasulullah.
                “sebab kepalaku penuh dengan dosa.”
                “apa yang kamu keluhkan?”
                “seperti rayapan semut dalam tulang, daging, dan kulitku,” jawab Tsa’labah lemah.
                “apa yang kamu inginkan?” Tanya Rasulullah kepadanya.
                “ampunan Rabb-ku, wahai Rasulullah.”
Jibril ‘alaihis salam turun dan memberitahukan,
“Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan memberitahumu, ‘Andai hamba-Ku ini menemui-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, tentu Aku akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi.”
Rasulullah Saw. memberitahukan kabar ampunan itu kepada Tsa’labah. Seperti terkejut mendapat kabar gembira, Tsa’labah berteriak. Lalu, ia meningggal dalam tobatnya dan meraih apa yang ia inginkan, ampunan.
Rasulullah Saw. meminta umat Islam memandikan dan mengkafaninya. Setelah menshalatinya, Rasulullah berjalan di dekat ujung jari jemarinya.
“wahai Rasulullah, kenapa Anda berjalan di dekat ujung jari jemarinya?” kata seorang sahabat seusai penguburan.
“demi Zat yang telah mengutusku sebagai seorang nabi dengan sebenarnya, aku tidak mampu meletakkan kakiku diatas tanah akibat banyaknya malaikat yang turun untuk mengantarkannya!” jelas Rasulullah kepada sahabat tentang kemuliaan Tsa’labah.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ya Allah Sang Maha Pemurah,
Lalu bagaimana dengan dosa-dosaku yang telah lalu? bagaimana aku membayarnya?
aku yakin Engkaupun akan membantuku menghapus dosa-dosaku yang telah lalu. Maka bantulah aku tetap Istiqomah dijalanmu ameen ameen ameen



Sumber: Buku On The Way To Jannah karangan Muhammad Amin penerbit Buyan

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar